Neurodiversity and trauma in early childhood: Implications for inclusive learning
Hamid Patilima
- Penerbit
- AOSIS – South African Journal of Childhood Education
- DOI
- 10.4102/sajce.v15i1.1704
Abstrak atau ringkasan
Artikel ini mengkaji keterkaitan antara neurodiversitas dan trauma dalam pendidikan anak usia dini serta implikasinya terhadap pembelajaran inklusif. Anak neurodivergen dapat menghadapi berbagai hambatan dalam lingkungan pendidikan, termasuk kelebihan rangsangan sensorik, eksklusi sosial, metode pembelajaran yang kaku, kurangnya kesiapan guru, serta praktik disiplin yang tidak inklusif. Kondisi tersebut dapat memengaruhi perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak. Penelitian menggunakan desain penelitian sekunder kualitatif sistematis dengan menganalisis laporan organisasi internasional, termasuk UNICEF, WHO, UNESCO, dan ILO, serta artikel jurnal ilmiah yang telah melalui proses peer review. Analisis dilakukan melalui pendekatan tematik dan perbandingan kebijakan pada konteks negara berpendapatan tinggi, khususnya Finlandia dan Kanada, serta konteks dengan sumber daya terbatas seperti Afrika Selatan dan negara-negara Global South. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pendidikan yang segregatif dan disiplin yang bersifat menghukum dapat meningkatkan kecemasan dan mengurangi interaksi sosial anak neurodivergen. Sebaliknya, penerapan Universal Design for Learning (UDL), rencana pembelajaran individual, rutinitas yang terstruktur, ruang belajar yang ramah sensorik, serta Social-Emotional Learning (SEL) berpotensi mendukung hasil akademik dan sosial yang lebih baik. Penelitian merekomendasikan penguatan pendidikan berbasis trauma, peningkatan kompetensi guru, perluasan layanan pendukung, serta kolaborasi antara sekolah, layanan kesehatan, dan keluarga untuk memperkuat lingkungan pendidikan yang inklusif bagi anak neurodivergen.