Artikel2026
Hamid Patilima
Perlindungan anak dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) formal jarang dikaji dari perspektif koherensi regulasi, padahal penyelenggaraan layanan yang aman membutuhkan aturan, prosedur, dan koordinasi layanan yang jelas. Penelitian ini menganalisis koherensi kerangka hukum dan kebijakan nasional mengenai perlindungan anak dalam PAUD formal serta menafsirkan implikasinya terhadap kesiapan layanan. Analisis kebijakan kualitatif dilakukan melalui telaah terarah terhadap 22 sumber yang diterbitkan atau ditetapkan pada periode 2005–2026. Data disusun dalam matriks analitis dan dikodekan berdasarkan enam indikator kesiapan layanan. Hasil kajian menunjukkan adanya landasan normatif yang kuat. Regulasi pendidikan tahun 2026 memperjelas aspek pencegahan, pelaporan, penanganan pengaduan, rujukan, dan koordinasi kelembagaan. Namun, kesiapan tenaga serta integrasi operasional lintas layanan masih belum merata. Oleh karena itu, perlindungan anak perlu ditempatkan sebagai komponen inti dalam penjaminan mutu dan tata kelola PAUD formal.
Perkumpulan Pengelola Jurnal PAUD Indonesia – Aulad: Journal on Early Childhood
Artikel2026
Hamid Patilima
Artikel ini mengkaji bagaimana komitmen terhadap Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child/CRC) diterjemahkan ke dalam bentuk tata kelola anak yang berbeda pada tingkat nasional. Dengan menggunakan analisis dokumen komparatif kualitatif, penelitian membandingkan Selandia Baru, Meksiko, Indonesia, dan Pakistan berdasarkan 12 dokumen publik yang terdiri atas laporan negara pihak, concluding observations Komite Hak Anak PBB, serta sumber pemantauan nasional dan masyarakat sipil.
Berlandaskan Theory of Practice Architectures, penelitian menunjukkan bahwa meskipun keempat negara menggunakan CRC sebagai kerangka normatif yang sama, terdapat perbedaan penting dalam koordinasi kelembagaan, hubungan antara hak anak dengan perencanaan dan pembiayaan, sistem pemantauan, pengakuan terhadap partisipasi anak, serta distribusi akuntabilitas. Artikel ini menegaskan bahwa globalisasi hak anak lebih tepat dipahami sebagai proses penerjemahan institusional yang berbeda-beda daripada sebagai proses penyeragaman tata kelola. Penelitian ini sekaligus menawarkan kerangka berbasis tata kelola untuk menganalisis bagaimana hak anak dilembagakan dalam sistem kebijakan dan administrasi nasional.
SAGE Publications — Global Studies of Childhood
Artikel2025
Hamid Patilima
Artikel ini mengkaji keterkaitan antara neurodiversitas dan trauma dalam pendidikan anak usia dini serta implikasinya terhadap pembelajaran inklusif. Anak neurodivergen dapat menghadapi berbagai hambatan dalam lingkungan pendidikan, termasuk kelebihan rangsangan sensorik, eksklusi sosial, metode pembelajaran yang kaku, kurangnya kesiapan guru, serta praktik disiplin yang tidak inklusif. Kondisi tersebut dapat memengaruhi perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak. Penelitian menggunakan desain penelitian sekunder kualitatif sistematis dengan menganalisis laporan organisasi internasional, termasuk UNICEF, WHO, UNESCO, dan ILO, serta artikel jurnal ilmiah yang telah melalui proses peer review. Analisis dilakukan melalui pendekatan tematik dan perbandingan kebijakan pada konteks negara berpendapatan tinggi, khususnya Finlandia dan Kanada, serta konteks dengan sumber daya terbatas seperti Afrika Selatan dan negara-negara Global South. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pendidikan yang segregatif dan disiplin yang bersifat menghukum dapat meningkatkan kecemasan dan mengurangi interaksi sosial anak neurodivergen. Sebaliknya, penerapan Universal Design for Learning (UDL), rencana pembelajaran individual, rutinitas yang terstruktur, ruang belajar yang ramah sensorik, serta Social-Emotional Learning (SEL) berpotensi mendukung hasil akademik dan sosial yang lebih baik. Penelitian merekomendasikan penguatan pendidikan berbasis trauma, peningkatan kompetensi guru, perluasan layanan pendukung, serta kolaborasi antara sekolah, layanan kesehatan, dan keluarga untuk memperkuat lingkungan pendidikan yang inklusif bagi anak neurodivergen.
AOSIS – South African Journal of Childhood Education